Oleh : KH Abdullah Gymnastiar
Ya Allah indahkan kehidupan kami dengan kerinduan terhadap nasehat dan jadikan diri-diri
kami menjadi pribadi yang menjadi nasehat.Engkaulah pembuka setiap hati penuntun
setiap qolbu, Amiin Ya Allah Ya Robbal alamiin.
Kajian kita kali ini adalah bagaimana menjadi orang yang beruntung , bagaimana
menjadi orang yang sukses, tidak hanya dunia tapi juga sampai akherat nanti.
Wal ‘ashr (demi massa)
Innal insaana lafi khusr
(Sesungguhnya manusia itu benar-benar ada dalam kerugian)
Illallladzina aamanu wa’amilusholihaati watawaa shoubil haqqi watawa
shoubishobr (kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh dan
nasihat menasehati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasehati supaya
menaati kesabaran) [Q.S 103 ; 1 - 3]
Sesungguhnya setiap insan rugi, tambah hari tambah rugi , tambah tua tambah
rugi, tambah umur
tambah rugi kecuali orang yang tiap hari berjuang sekuat tenaga agar makin
kokoh imannya, makin mantap keyakinanya, karena jika hidup tanpa diiringi
kekokohan iman, amal apapun tidak akan betul niatnya.
Dia punya harta, kalau tidak punya iman, maka harta itulah yang akan
memperbudak dirinya, kalau dia punya kedudukan kalau tidak punya iman maka kedudukannya yang akan
menjatuhkan dirinya, jika dia memiliki penampilan kalau dia tidak punya iman maka
penampilannya yang akan menjerumuskan dirinya.
Orang yang beruntung lainnya adalah orang yang setiap hari, setiap waktu sekuat
tenaga
bertambah amal kebaikannya. Ciri amal shaleh itu ada dua yaitu; pertama dilandasi
niat yang benar dan lurus, kedua amalnya sendiri harus benar.
Dan andaikata bangsa kita ini menggunakan konsep ini, maka Insya Allah akan
selamat. Penyebab bangsa ini mendapat ujian seperti ini diantaranya ada tiga
penyebab yang pertama adalah karena bangsa kita masih lemah iman. Lalu apa ciri-ciri
orang yang kurang iman ? sederhana saja yaitu jika orang-orang tersebut selalu
mengagung-agungkan materi dan mengagung-agungkan dunia. Terjadinya kita
mendapatkan gelar ranking yang top dalam korupsi itu gara-gara para pelaku
korupsi itu tidak mengerti bahwa korupsi itu hanya menambah kehinaan. Bagi
orang yang mengenal Allah buat apa kita menggadaikan diri kita hanya menjadi
pencuri.
Penyebab bangsa ini mendapat ujian seperti ini yang kedua adalah karena bangsa
kita masih
kurang amal dan yang ketiga adalah tidak saling nasehat dan menasehati dalam
kebenaran dan kesabaran.
Kalau ada pertanyaan kenapa seorang suami gagal dalam menasehati istrinya?,
kenapa seorang ibu susah menasehati anaknya?, kenapa seorang guru susah
menasehati muridnya?, kenapa seorang pimpinan sulit menasehati bawahannya ?,
jawabannya sederhana; Orang hanya bisa memberikan nasehat dengan mantap! kalau dia termasuk orang yang cinta
dinasehati oleh orang lain.
Repotnya kita ketika memberikan nasehat semangat, ketika memberikan saran
semangat, ketika
memberikan koreksi semangat tetapi ketika giliran kita dikoreksi justru kita
tidak sanggup menerimanya. Oleh karena itu kepada siapapun yang akan memberikan nasehat
syarat utamanya adalah kita harus menjadi orang yang terlatih untuk menerima
nasehat, terlatih untuk menerima kritik dan terlatih untuk menerima
koreksi.Sebelum kita sanggup untuk melatih diri kita, sulit sekali kita akan
memiliki nasehat yang memiliki kekuatan yang menggugah dan merubah. Harusnya
kita melihat saran, kritik dan nasehat dan koreksi itu menjadi sebuah kebutuhan.
Rahasia sukses dalam menerima nasehat atau kritik yaitu:
1. Rindu kritik dan nasehat,
Kita harus memposisikan diri menjadi orang yang rindu dikoreksi, rindu
dinasehati, seperti rindunya kita melihat cermin agar penampilan kita selalubagus.
Pemimpin sejati adalah pemimpin yang selalu rindu dikoreksi oleh anggota atau
bawahannya, seorang guru yang senantiasa mengharapkan saran agar lebih baik
dalam cara mengajarnya tidak akan pernah menjadi hina jika ia meminta saran
atau kritik dari murid-muridnya, bahkan Khalifah Umar Bin Khatab RA jauh lebih menghargai
kritik dan koreksi dibandingkan pujian.
2. Cari dan tanya, Belajarlah
bertanya kepada orang lain dan nikmati saran-saran yang mereka
lontarkan, milikilah teman yang mau jujur mengoreksi, tanya pula kepada istri,
suami, anak-anak, karyawan dan lain-lain.
3.
Rahasia kita agar sukses
ketika menerima kritik adalah nikmati kritik itu sebagai karunia
Allah; karena seseorang tidak akan mati karena dikritik, maka oleh karena itu
jika di koreksi maka dengarkanlah, jangan sibuk membela diri karena makin sibuk membela diri
maka tidak akan mendapatkan sesuatu.
Memang orang yang lemah,orang yang sombong ,
orang-orang yang penuh kebencian itu tidak pernah tahan terhadap kritik, jika
ada yang mengkoreksi maka dirinya sibuk untuk membela diri, sibuk untuk
berpikir dan sibuk untuk membalas, ketahuilah bahwa orang yang demikian itu
tidak akan bisa maju.
Orang yang kokoh dan kuat itu bukan orang yang sibuk
memberikan alasan ketika dia dikritik, karena jika tidak hati-hati alasan itu
justru memperjelas kesalahan. Dari pada kita sibuk menyerang orang lain dan
membela diri, sebaik-baik jawaban atas kritik dan koreksi adalah dengan memperbaiki
diri.Orang lain sibuk mencari kejelekan kita, tetapi kita justru sibuk memperbaiki
kejelekan kita.
Lalu bagaimana jika lalu kita dihina terus ? jangan risau , karena semua orang
yang sukses dan mulia itu pasti ada yang menghina, tidak akan pernah didengki
kecuali orang yang berprestasi, makanya jangan takut! kalau kita dihina justru
kita harus sibuk memperbaiki diri.
4. Biasakanlah kita untuk
menjadi orang yang berterima kasih,kalau kita berubah,..... jangan
pernah lupa untuk menyebut jasa orang yang pernah merubah kita sehingga
kesuksesan ini harus jadi kebahagiaan dan kesuksesan bagi orang lain.
Jadi sahabat-sahabat sekalian , cita-cita kita nanti ciri khas seorang pemimpin
negeri ini adalah seorang pemimpin yang rindu di nasehati,jadi ketika masyarakatnya
melakukan koreksi justru pemimpin tersebut senang, kelihatannya kita jangan
pernah mau memiliki pemimpin dalam level manapun yang tidak bisa
dikoreksi,nanti dia akan menipu dirinya sendiri, orang yang tidak bisa
dikoreksi itu adalah orang yang sombong, merasa pintar sehingga menganggap
rendah setiap nasehat. Ciri pemimpin sejati adalah seorang pemimpin yang
mencintai nasehat.
Jadi memang seharusnya kita harus sadar, bahwa keuntungan kita adalah ketika
kita menerima nasehat dari orang lain dengan lapang dada dan rasa syukur,
Belajarlah berterima kasih kepada orang yang mengoreksi, karena koreksi itu
adalah bagian dari yang kita minta kepada Allah seperti yang sering kita
ucapkan dalam bacaan shalat \"Ihdinashiraathal mustaqiim\"
(tunjukilah kami jalan yang lurus) [Q.S 1 ; 6]
Dalam berkomentar atau melakukan kritik itu harus hati-hati , karena setiap
kita mengkritik dan mengoreksi sesorang sebetulnya yang keluar itu adalah diri
kita.Nabi Muhammad SAW itu adalah seorang penasehat, tetapi nasehatnya itu
betul-betul bil hikmah, semuanya penuh dengan kearifan dan kematangan.
Yang paling penting dari suatu nasehat, kritik dan koreksi itu adalah niat yang
mendasarinya.
Kalau didasari niat ingin menjatuhkan, koreksi itu hanya akan menjadi pisau
atau panah beracun. Harusnya nasehat kita itu dilandasi dengan rasa kasih sayang dan persaudaraan.
Dengan nasehat kita harus membantu yang lupa agar menjadi ingat, membantu yang
lalai agar menjadi semangat, yang tergelincir menjadi bangkit kembali, yang
berlumur dosa menjadi bertobat, intinya kalau dilandasi niat yang baik akan
melahirkan kebaikan juga.
Kalau niat sudah baik caranya juga harus benar, Ali Bin Abi Thalib .RA
mengatakan " kalau kita memberi nasehat tetapi di depan umum itu sama
dengan memaki-maki atau mempermalukan seseorang", maka resep selanjutnya
kalau kita ingin memberikan nasehat, nasehatilah dengan lemah lembut.
"Tiadalah kelembutan itu ada pada seseorang kecuali memperindah". Rasullulah
SAW memperbaiki peradaban yang begitu keras dan berat justru dengan kelembutan,
kita butuh nasehat yang tulus dari hati yang penuh kasih sayang dengan
kata-kata yang terpilih yang tidak melukai diiringi dengan sikap yang tidak menggurui, tidak
mempermalukan, tidak memojokan sehingga orang berubah bukan karena ditekan oleh kata-kata kita
melainkan tersentuh oleh kata-kata kita.
Sahabat-sahabat, marilah kita terus berlatih untuk menyayangi orang lain karena
itulah sumber yang utama agar nasehat kita menjadi bijak dan penuh
kemuliaan.Dan sebaik-baik nasehat adalah dengan suri tauladan, hancurnya
orang-orang yang sibuk memberi nasehat adalah ketika apa yang dia katakan tidak
sesuai dengan apa yang dia lakukan.
Wallahu a’lam bishowab.